Langsung ke konten utama

Postingan

Several Years Before

   Melihat kembali album foto yang sudah usang. Sampulnya pun sudah lepas. Di dalamnya ada foto ketika masih bayi. Ini membuat gue pengin melihat tayangan flashback perjalanan masa kecil yang sungguh aduhai.     Mencuil lagu yang dinyanyikan Vidi Aldiano: "Apalah arti hidup ini tanpa cinta dan kasih sayang." Gue melihat kembali ke belakang, bahwa meski tanpa satu pun pacar yang menemani masa kecil (kayak anak SD skarang), gue sepertinya cukup menikmati masa-masa itu. Harus diakui, cukup banyak konflik yg terjadi dengan teman masa SD menghiasi masa pertumbuhan mental gue. Tapi itu semua selesai sudah ketika gue sampai di rumah. Nyokap menjadi pelabuhan internasional segala keluh tangis gue. Dan naasnya, rentetan scene masa SD itu baru gue sadari sekarang.     Tanpa harus besar dalam kepulauan kecil nun jauh di BangkaBelitung macam Andrea Hirata. Atau jadi anak kecil berkacamata yg ditemani kucing masadepan, seperti Nobita. Gue enjoy tumbuh besar ...

Jurnalisme

Kualitas jurnalisme menentukan kualitas demokrasi sebuah negara. Itu kata pakar jurnalisme dari eropa. Dan itu juga saya tahu dari liputan sebuah pertemuan Pemred berskala nasional di Nusa Dua, Bali. Lalu pada saat bersamaan, di rumah, ketika saya menulis ini, adik saya menangis kencang disemprot Bapak karena terus berisik rebutan duit Rp2000. Hubungannya apa? Dari pertemuan Pemred Nasional yg dihadiri Presiden dan beberapa menteri itu, ada beberapa faktor yg sedikitnya menjadi latar belakang pertemuan tersebut. Kenaikan harga BBM, beragam kasus korupsi anggota partai penguasa, atau simpulnya: turunnya kredibilitas penguasa di mata rakyat (lewat media). Di sini media menjadi fokus utama pihak Istana. Dimana telah lama diketahui, di banyak tempat, media sebagai kekuatan super yang mampu menentukan mulusnya suatu pemerintahan. Dengan menjaga citra independesinya, media mampu menggiring opini publik dan mengajukan opini atas nama rakyat. Bila ada seorang bapak yang menyemprotkan air ke ...

Berbeda

Pada suatu sore, ketika keluar dari suprermal karawaci saya harus berjalan pelan di belakang dua orang (berbusana) wanita. Satu yang sebelah kanan mengenakan rok mini yang jelas tidak seksi, karena dibawah rokmini itu terpampang kaki yang kekar dengan bulu kaki yang dicukur asal. Sebelah kirinya memakai bluejeans ekstra ketat mmerlihatkan pinggulnya yang seksi. Namun lihatlah tumit yang memakai wedges itu: gelap berdaki. Oh my God. I'm so sorry. Saya sungguh tidak berniat menhina siapa pun! Pemandangan yang tak wajar ini menarik untuk dipahami. Bagaimana seorang, oh mungkin dua orang, yang memiliki orientasi seksual berbeda merasa perlu menunjukkan statusnya di depan publik. Bahkan mungkin ada juga anak kecil yang melihat dan bertanya, "Mah, itu cewek atau cowok yah?" Sang Ibu yang hanya biasa menonton 'Mamah Dedeh' dan 'Cinta Fitri' pun bingung menjawabnya. Menarik untuk melihat definisi dan keterangan tentang kaum biseksual ini dari berbagai sumber. Wi...

Temen Gue

Pagi dan mentari membuat keindahan alam terepresentasi dengan tepat. Namun sejak awal tahun hingga hari ini kombinasi keduanya sering terganggu. Awal pagi yang cerah menjadi harapan di setiap hari weekday agar bisa berangkat ke kantor atau sekolah dengan normal. Itulah sisi gelap awal tahun ini. Tak terasa dan tak ada yang mau ngitung juga sudah berapa hari yang lalu saya lulus SMA. Mengingat masa penuh keceriaan tidaklah sulit. Dimana kita bertemu dengan banyak teman yang menemani kita tumbuh berkembang. Ketika anak perempuan SMP yang cupu berangkat jadi kupu-kupu. Ketika remaja lelaki SMP yang polos berangkat menjadi bos (parkiran). Masa metamorfosis itu sering kita sebut masa puber. Ya, puberitas adalah perubahan fisik personal menjadi dewasa. Itu hanyalah perubahan fisik semata. Ada yang lebih dari itu. Pertemuan dengan teman canda dan tawa di masa SMA menjadi sesuatu yang menarik untuk diulang. Kemarin gue main ke kostan salah satu teman SMA yang kuliah di UIN, Ciputat. Di san...

Barista

Selamat pagi. Gue gak tau juga sih pas kalian baca ini lagi pagi atau malam. Yang jelas kata guru gue dulu sapaan “Selamat pagi” efektif untuk menyalurkan energi positif yang mencerahkan. Tapi masalahnya gue/guru gue gak tau sapaan itu juga berlaku untuk orang yang baru bangun jam 12 atau enggak. Begini, akhir-akhir ini gue benci sama satu kosakata yang sering menggaung di antara teman-teman gue: galau. Apa ya kata selain itu? Resah, gelisah, gamang, bimbang, Bambang? Oh maaf, yang terakhir itu nama temen gue. Semua sinonimnya terdengar negatif. Dan sekarang gue juga ikutan. Ya, gue galau karena hingga kini belum bisa menelurkan satu pun cerpen. Satu telur puyuh pun juga belum. Cerpen itu suatu karya seni yang dulu pernah gue minati. Memang sih, minat ini hanya berangkat dari mata kuliah Penulisan yang dulu pernah gue dapat. Dari ucapannya yang meyakinkan, dosen Penulisan yang juga senior editor di Kompas Gramedia itu memiliki daya magnet tersendiri untuk membangun passion dalam di...

Modern

Menulis dan melukis sepertinya memiliki satu persamaan: mencoba mengisi lembaran yang kosong. Dimensi yang sama (selembar kertas/kanvas putih) diupayakan untuk menjadi hasil yang dapat dinikmati. Baik itu dengan karya seni visual ataupun karya sastra yang menggugah. Kali ini aku bukan hendak mengisi tulisan layaknya pelukis memuas karyanya. Hanya seperti yang lainnya; menuang gagasan. Layaknya menuang satu shot espresso ke dalam cangkir berisi susu putih. Dimulai dari sebuah film yang menginspirasiku untuk kembali menemukan sesuatu yang dulu aku senangi: menulis. Aku menyukai kegiatan ini karena dengan ini isi dalam kepala bisa tergambar, setidaknya tereprentasi, sebaik apa kualitas isi kepala kita. Ini dimulai dari mata kuliah Menulis yang kumulai pada masa kuliah yang dulu belum kurampungkan. Sensasi terbesar yang jelas terasa adalah ketika hasil akhir tulisanku mendapat apresiasi yang mencukupi – seperti senangnya adikku mendapat sepeda sebagai apresiasi Ibu atas kenaikan kelasn...

Galau

Entah karena sebab apa atau siapa, saat ini kita sering mendengar banyak kata “galau.” Di twitter, facebook, di tempat umum, atau pun di jalan. Tanpa perlu tahu apa artinya, kita senang menyebutkannya untuk mengungkapkan kondisi hati yang (sebut saja) sedang kasmaran. Padahal kalau kita lihat di KBBI, galau itu artinya: ramai sekali; kacau tidak keruan. Dengan definisi tersebut, guru TK lah yang lebih layak berkata, “Lagi galau, nih.” Iya kan? Ketika di dalam WC sekolahan ada seorang pelajar yang bilang sama temennya, “Duh, galau bener nih,” itu bisa berarti banyak; dia lihat kotoran yang belum disiram ‘ramai sekali’ atau rambutnya memang sedang ‘kacau tidak keruan.’ Kata tersebut sudah begitu akrab di telinga masyarakat urban masa kini. Kalau dilihat-lihat, asal mulanya sebenarnya ga terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari: media hiburan. Karena lebih suka menghabiskan banyak waktu kosong di depan televisi, tanpa sadar kita selalu percaya terhadap nilai-nilai yang disampaikan bera...