Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label civilization

Idul Adha

Assalamualaikum. Semoga kita selalu dalam keadaan sehat sejahtera. Tak terasa sekarang sudah idul adha aja. Sepertinya baru kemarin kita saling bersalaman di idul fitri. Gimana rasanya ketika kita dimasukkan dalam time capsule, seperti hanya duduk sebentar dan tiba-tiba waktu telah terlewat setengah tahun. Itulah yang baru saya rasakan ketika hari ini mendengar takbir berkumandang. Hidup dalam rutinitas sebagai karyawan swasta memang kelihatannya nyaman. Berangkat pagi - pulang sore, tiap akhir bulan berwajah cerah ceria. Tapi tiap malam senin bermuram gulita. Misuh-misuh sendiri, mengapa senin begitu cepat datangnya. Takbir yang dikumandangkan tiap waktu shalat tiba menjadi terdengar megah di hari ini. Takbir yang jadi napak tilas peristiwa kemenangan nabi Ibrahim atas bisikan setan. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahil hamd. Dalam sirahnya yang diceritakan dalam AlQuran nabi Ibrahim lewat mimpinya diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya sendiri Ismail alaihisal...

Berhak

Bumi nusantara ini sedang ramai oleh sebuah peristiwa yang diadakan lima tahun sekali. Peristiwa yang diharapkan dapat menjadi titik tolak perubahan ke arah yg lebih baik. Proses demokrasi yang mengawali pergeseran kekuasaan bangsa, yang memulai harapan kita tumbuh sebagai bangsa yang besar untuk lima tahun ke depan. Sebenarnya ini bukan soal kenapa ataupun siapa. Ini hanya tentang bagaimana: bagaimana kemajuan bangsa ini direfleksikan oleh beragam karakter yang menghargai hak pilihnya atau tidak. Ini juga tentang apa: apa mereka (yang akan mengatasnamakan rakyat) benar-benar membawa kepentingan rakyat sebagai sumber daya utama kemajuan bangsa. Atau mereka hanya menjunjung tinggi kebutuhan rakyat hanya saat kampanye. Namun ketika terpilih justru mati-matian berjuang memenuhi kepentingan pribadi dan partainya. Ini bisa dilihat dari jumlah rupiah yang harus dikeluarkan para calon legislatif untuk menggelembungkan pamornya di mata para pemilih. Logika sederhana yang berkaitan dengan ...

Netralisasi

Dalam hidup, katanya, perubahan itu adalah satu hal yg pasti. Tapi ada satu perubahan yg berbahaya, yaitu perubahan perasaan. Ada yg tau Naturalisasi. Ya, itu adalah istilah dalam sepak bola ketika seorang pemain harus berganti kewarganegaraan untuk membela suatu timnas. Tak jauh dari itu ada yg namanya Netralisasi. Kali ini gue ada satu pemahaman berbeda tentang istilah ini. Netralisasi adalah suatu proses pergeseran makna seseorang di dalam hati. Dari yg tadinya menyukai sepenuh raga dan mencintai setulus hati, menjadi perasaan yg netral. Tak ada lagi impression yg mampu membuat hati bergetar. Istilah ini bukan gue temuin dari mana-mana. Ini hanya sebuah refleksi dari pengalaman di masa lalu. Ketika ada seseorang yg amat disukai tiba-tiba menjadi milik orang lain, dalam sebab apapun itu hanya mengakibatkan satu: gempa hati. Ternyata bukan cuma bumi aja yg bisa gempa. Reaksi selanjutnya dari gempa tersebut tak lain adalah menghapus perasaan yg tertanam dalam hati. Tentu tak lebih s...

TTDJ

Hari ini hari apa ya? Hari minggu kan ya? Huh, coba semua hari namanya hari minggu ya. Kan enak ga harus macet-macetan berangkat ke kantor terus. Terus kalo nagih utang juga enak. Ditanya "Kapan mau bayar?" Dia jawab "Iya entar bang minggu kedua." Itu berarti lusa dia bakal bayar. Kan minggu itungannya jadi hari. Hehehee. Lagi pada ngapain ni? Enak ya bisa online terus, sampe mau-maunya baca Blog yang ga penting ini. Jangan habiskan waktumu sia-sia. Jangan baca Blog ini kalo mau umur kamu pendek. Loh! Emangnya gue malaikat Izrail. Daripada makin ngaco, mending dengerin sharing ane aja ya. Iya denger. Belum bisa denger juga ya? Coba colokin headset ke komputer ato handphone kamu. Sudah? Denger kan? Belum kedengeran ya? Kalo di headset kamu ga kedengeran suara apa-apa berarti kamu benar-benar jenius. Mau aja dipinterin sama orang pinter. Tapi masih ada yg lebih pinter loh. Kalo sering naik motor di jalan kamu pasti akan nemuin beberapa contohnya. Misalnya: orang y...

Budaya Dasar

Bulan ini bisa dibilang bulan yang penuh warna buat gue. Bukan karena kaos kaki merah di kiri dan kaos kaki biru di kanan yang gue pake saat orientasi MaBa. Tapi karena di bulan ini gue mulai kuliah lagi. Bagi sebagian orang, kata kuliah menjadi semacam kata eksklusif. Keren, intelek, istilah itu yang ada dalam benak. Bener sih. Dengan demikian, status mahasiswa adalah sebuah cover yang keren. Sampul yang terlihat berkelas. Lalu bagaimana atau apa sebenernya kegiatan kuliah itu sendiri? Jawabannya: belajar. Ya, ternyata cuma itu kok jawabannya. Tergantung bagaimana kita mengartikan kata belajar, that's the point. Sampai di ruang kelas, gue bertemu dengan banyak karakter luar biasa. Dengan beragam busana dan tampilan yang penuh warna. Hari senin adalah hari pertama kami kuliah dan berkenalan satu sama lain. Pada hari itu pula gue kenal ada yg namanya mata kuliah Ilmu Alamiah Sosial Budaya Dasar.

Merdeka

Saya mau mengawali tulisan ini dengan mengutip sebuah buku berjudul Doorstoot Nar Djokja . Buku ini di antaranya bercerita tentang serangan Operasi Kraai yang dilakukan di bawah komando Jenderal Spoor. Pada 19 Desember 1948 tepatnya, serangan ini dilakukan dengan tujuan menduduki wilayah strategis Republik Indonesia di pulau Jawa. Catatan Batalyon 5 Resimen V KNIL menyebutkan, “Dari jauh kelihatan Kota Solo sedang dibakar. Di antara kepulan asap, tampak beberapa pesawat terbang kami mulai menukik, sambil menyiramkan peluru. Pasukan kami segera dipisahkan. Kompi IV akan menuju Solo lewat jalan utama, sedangkan Kompi II bergerak sedikit ke arah Selatan, melalui jalan lama. Di belakang Kompi IV, menyusul Kompi III dan Kompi I, untuk ikut menyerbu dengan tugas utama menduduki sejumlah sasaran strategis.” “Pasukan kami kemudian menemukan Solo yang sudah berubah menjadi sebuah kota mati. Sepi, senyap, sedangkan api masih terus-menerus menghanguskan sejumlah bangunan. Sekitar pukul 16.00...

Temen Gue

Pagi dan mentari membuat keindahan alam terepresentasi dengan tepat. Namun sejak awal tahun hingga hari ini kombinasi keduanya sering terganggu. Awal pagi yang cerah menjadi harapan di setiap hari weekday agar bisa berangkat ke kantor atau sekolah dengan normal. Itulah sisi gelap awal tahun ini. Tak terasa dan tak ada yang mau ngitung juga sudah berapa hari yang lalu saya lulus SMA. Mengingat masa penuh keceriaan tidaklah sulit. Dimana kita bertemu dengan banyak teman yang menemani kita tumbuh berkembang. Ketika anak perempuan SMP yang cupu berangkat jadi kupu-kupu. Ketika remaja lelaki SMP yang polos berangkat menjadi bos (parkiran). Masa metamorfosis itu sering kita sebut masa puber. Ya, puberitas adalah perubahan fisik personal menjadi dewasa. Itu hanyalah perubahan fisik semata. Ada yang lebih dari itu. Pertemuan dengan teman canda dan tawa di masa SMA menjadi sesuatu yang menarik untuk diulang. Kemarin gue main ke kostan salah satu teman SMA yang kuliah di UIN, Ciputat. Di san...

Modern

Menulis dan melukis sepertinya memiliki satu persamaan: mencoba mengisi lembaran yang kosong. Dimensi yang sama (selembar kertas/kanvas putih) diupayakan untuk menjadi hasil yang dapat dinikmati. Baik itu dengan karya seni visual ataupun karya sastra yang menggugah. Kali ini aku bukan hendak mengisi tulisan layaknya pelukis memuas karyanya. Hanya seperti yang lainnya; menuang gagasan. Layaknya menuang satu shot espresso ke dalam cangkir berisi susu putih. Dimulai dari sebuah film yang menginspirasiku untuk kembali menemukan sesuatu yang dulu aku senangi: menulis. Aku menyukai kegiatan ini karena dengan ini isi dalam kepala bisa tergambar, setidaknya tereprentasi, sebaik apa kualitas isi kepala kita. Ini dimulai dari mata kuliah Menulis yang kumulai pada masa kuliah yang dulu belum kurampungkan. Sensasi terbesar yang jelas terasa adalah ketika hasil akhir tulisanku mendapat apresiasi yang mencukupi – seperti senangnya adikku mendapat sepeda sebagai apresiasi Ibu atas kenaikan kelasn...

Galau

Entah karena sebab apa atau siapa, saat ini kita sering mendengar banyak kata “galau.” Di twitter, facebook, di tempat umum, atau pun di jalan. Tanpa perlu tahu apa artinya, kita senang menyebutkannya untuk mengungkapkan kondisi hati yang (sebut saja) sedang kasmaran. Padahal kalau kita lihat di KBBI, galau itu artinya: ramai sekali; kacau tidak keruan. Dengan definisi tersebut, guru TK lah yang lebih layak berkata, “Lagi galau, nih.” Iya kan? Ketika di dalam WC sekolahan ada seorang pelajar yang bilang sama temennya, “Duh, galau bener nih,” itu bisa berarti banyak; dia lihat kotoran yang belum disiram ‘ramai sekali’ atau rambutnya memang sedang ‘kacau tidak keruan.’ Kata tersebut sudah begitu akrab di telinga masyarakat urban masa kini. Kalau dilihat-lihat, asal mulanya sebenarnya ga terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari: media hiburan. Karena lebih suka menghabiskan banyak waktu kosong di depan televisi, tanpa sadar kita selalu percaya terhadap nilai-nilai yang disampaikan bera...