Langsung ke konten utama

Postingan

Untuk Apa

   Papan kayu yang menampilkan barisan huruf kapital yang sepertinya terbuat dari emas tergeletak di atas meja kayu yang megah. Papan itu bertuliskan: Menteri Pendidikan Nasional. Di belakang meja, sedang duduk anggun seorang bapak-bapak yang belum terlalu tua. Mungkin masih 50-an umurnya. Kerut di wajahnya bukan menunjukkan kalau dia sudah punya cucu, melainkan lebih menandakan berbagai aral rintang kehidupan yang telah banyak dilaluinya. Rambut depannya pun sudah mulai menipis. Satu-satunya yang membuatnya gagah adalah baju dinas kebesarannya, yang hanya dipakainya untuk berkantor dan mengunjungi sekolah-sekolah gratis yang telah berhasil diwujudkan. Setelah seharian penuh ia menghabiskan harinya dengan rapat koordinasi, rapat evaluasi Undang-undang baru, dan lain sebagainya, entah mengapa ia tertarik dengan buku kusam yang dimasukkannya ke tas tadi pagi sebelum berangkat ke kantor. Ketika ia membuka halaman demi halaman dengan acak, tak sengaja ia temukan selembar foto pere...

Ke Kampus

Hari ini berjalan seperti hari lainnya. Husna harus sampai di kampus pukul setengah delapan. Untuk itu pada pukul empat yang gelap ia sudah bangun. Dan kini, di halte yang tidak sepi lagi ia hanya bisa sesekali menguap sambil menutup mulutnya. “Ah, datang juga akhirnya,” serunya ketika melihat bis mini berwarna ungu berhasil menembus lampu merah. “Diipuk! Diipuk! .... Ayo, ceepat ceepat. Depan ada Polisi iitu!” Husna segera menyanggul tasnya dan berlari, berusaha menaruh kaki kanannya di tangga masuk bis ungu bertuliskan: P.O. DEBORAH. Yang ikut masuk ternyata bukan hanya Husna, dua perempuan yang berpenampilan hampir sama dengannya, satu berjilbab menyerupainya dan satu lagi tidak, dengan aksesoris yang lebih lengkap di tangan kirinya, serta dua bapak-bapak, satu berpakaian kantor necis dan yang satu berpakaian PNS. Lima orang itu masuk, ikut berjejalan ke dalam bis yang sudah sesak itu.  Wangi sabun Husna tak bersisa lagi, kulit putihnya yang mulai ditumbuhi rambut-rambut kecil ...

Koran Gratis

   Angkutan umum menjadi representasi sederhana masyarakat kelas menengah ke bawah. Mengapa saya bisa berkata demikian? Itu karena hampir setiap hari saya pulang pergi kuliah dengan angkutan umum. Pengap dan seadanya adalah dua kata yang cukup mewakili kondisi kendaraan ini. Seusai kuliah, kali ini saya harus naik angkutan umum untuk pulang. Diantar teman sampai depan masjid Universitas Pancasila, saya menunggu bis kecil berwarna ungu yang akan mengantarkan saya ke Lebak Bulus. Setelah agak lama menunggu, bis yang telah penuh sesak itu pun datang dan mengangkut serta saya ke dalamnya.    Tiba di terminal Lebak Bulus, bis ungu itu langsung dikerubungi oleh mobil-mobil angkutan umum jurusan Ciputat yang saya naiki salah satunya. Tak terasa saya sudah sampai didepan kampus UMJ. Berarti sebentar lagi akan tiba di pasar Ciputat, tempat angkutan-angkutan umum jurusan Pamulang nongkrong. Tak lama kemudian, mobil yang saya naiki masuk pasar Ciputat yang khas dengan kemaceta...

Kampus Kreatif

Hampir dua tahun saya telah mondar-mandir ke tempat ini, lima kali dalam seminggu. Meski begitu, suasana yang saya dapatkan ketika memasukinya, masih sama, sejuk, tenang, dan sunyi. Mungkin kesan ini saya dapatkan karena saya terbiasa bersentuhan dengan mobilitas tinggi kota Jakarta. Lagi pula ini hal wajar karena jumlah mahasiswa kampus ini masih sedikit. Masuk lewat gerbang depan yang terllihat sedikit megah dan disambut senyum hangat penjaga gerbang membuat saya tidak pernah bosan datang ke area yang terlihat masih asri ini. Sayangnya, untuk sampai ke kelas, saya masih harus naik ke lantai tiga, dan ini saya anggap sebagai sesi pemanasan. Usai pemanasan dan masuk ke dalam kelas, suhu tubuh langsung turun seketika dengan semburan udara yang keluar dari Air Conditioner. Sambil menahan dingin, pelajaran hari itu saya serap sebisa mungkin. Proses belajar mengajar di kampus ini berlangsung cukup baik dengan satu-dua dosen berkapabilitas dan fasilitas yang memadai. Seusai aktifitas akade...

Mahasiswa jangan telat!

Mentari yang silau di pagi ini tak menyurutkan langkah saya menuju rumah teman sekelas saya guna berangkat bersama ke kampus. Memang hampir setiap pagi hal ini saya lakukan, tapi kali ini langkah saya lebar-lebar dan tergesa-gesa karena saya harus sampai kampus pukul 07.30, dan sekarang jam digital di handphone saya telah menunjukkan pukul 06.58. Dengan kecepatan normal motor bebek, saya dan teman saya yang bernama Bambang itu bisa menempuh satu jam perjalanan untuk sampai kampus. Setibanya saya di depan pagar rumah Bambang pun, saya masih memikirkan bagaimana caranya agar tidak telat masuk kuliah pagi ini. Knalpot motor Bambang yang telah dimodifikasi menjadi knalpot racing membuat saya sedikit malu untuk menarik gas motor dalam-dalam. Namun, saya kembali tersadar bahwa ini memang harus saya lakukan pagi ini, hanya pagi ini. Dengan kecepatan di atas 60 km/jam, jalan raya Pondok Cabe dapat kami lalui dengan singkat hingga masuk ke jalan tikus me...

Kemiskinan Tiada Akhir

Kemiskinan menjadi masalah yang tiada akhir di negeri ini. Sebelum merdeka, rakyat di negeri ini harus menggunakan pakaian berbahan karung goni untuk menahan dinginnya malam. Saat ini, fenomena serupa ternyata juga tidak sulit ditemukan di pinggir jalan kota Jakarta. Bedanya saat ini dengan kaus lusuh berwarna cerah yang dibagikan saat masa kampanye. Kasus mutilasi terhadap anak jalanan yang dilakukan babe, seakan menyadarkan kembali, ternyata masih banyak anak-anak terlantar yang masih diselimuti kemiskinan. Peralihan zaman telah terjadi dan persoalan kemiskinan masih menggurita di negeri kepulauan yang kaya akan sumber daya alam ini. Akankah kemiskinan menjadi masalah bangsa Indonesia yang tiada akhir? Untuk menjawab pertanyaan diatas, penulis akan membedah masalah ini dari sudut pandang yang berbeda. Sebelumnya, mari lihat sedikit fakta mengejutkan di balik negara Indonesia yang begitu sulit keluar dari kubangan kemiskinan. Faktanya, saat ini, tanah Papua menghasilkan kekayaan tam...

Review di Tengah Jalan

Selama Sembilan tahun, dari SD hingga SMA pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tak pernah lepas dari papan tulis. Puluhan tahun dibutuhkan untuk dapat lulus dari sekolah militer. Lalu, kini saya harus menghabiskan tiga tahun untuk belajar di politeknik yang baru dibuka ini, Politeknik Negeri Media Kreatif. Muncullah pertanyaan, ilmu apa yang akan saya raih hanya dalam waktu tiga tahun disini. Hari perdana kuliah, dengan baju seragam hitam-putih dan ruangan kelas yang cukup nyaman untuk belajar, semua terlihat sempurna. Berusaha mengenal satu sama lain, menciptakan suasana yang ingin dirasakan siapapun. Kelas pertama yang kami tempati itu terlihat cukup bagus karena dosen langsung menghadap jendela lebar di belakang kami yang dapat menampilkan setengah wilayah Srengseng Sawah. Di depan ruangan itu terpampang tulisan cukup besar, “Penerbitan”. Namun, ternyata tulisan itu tidak cukup menggambarkan apa yang harus saya lakukan disini. Apa yang harus saya pelajari di tempat ini ...