Langsung ke konten utama

Postingan

Jalan Malioboro

Sengaja atau tidak, kita terus mengisi hidup ini dengan kasih sayang, entah bersama keluarga, pasangan hidup, ataupun teman. Saya kira itu juga cukup menjadi alasan mengapa kita masih bersemangat menjalani hari ini. Sengaja atau tidak, menjadi hal yang tidak mesti ketika kita melakukan sesuatu dengan senang hati. Dalam berbagai trip yang saya lakukan, ketidaksengajaan justru membawa saya pada banyak pengalaman yang sulit dilupakan. Salah satunya terjadi di Jalan Malioboro. Sebagai pelajar dengan kemampuan finansial yang masih middle class, satu-dua kali saya beruntung dapat mencicipi udara segar Kota Pelajar. Di antaranya adalah ketika menemani teman saya beli kaos oblong Dagadu. Pada masa itu, kaos oblong bergambar unik itu sedang naik daun di lingkungan sekolah menengah kami di Kuningan, Jawa Barat. Seorang teman berniat membeli banyak kaos oblong tersebut dari pusatnya dan menjual kembali ke adik-adik kelas. “Jis, ikut gue ke Jogja yuk .” “ Ayuk .” Jawaban itu teruca...

Kotak Ajaib

Seiring perkembangan zaman yang selalu menuntut kemajuan, informasi menjadi salah satu kebutuhan yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini, barang elektronik berbentuk kotak yang biasa disebut televisi telah hadir hampir di setiap rumah di dunia. Televisi sebagai salah satu buah dari kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak memberi manfaat berupa informasi dan hiburan. Kecepatan dalam menyampaikan berita dan keefektifannya dalam menyampaikan pesan membuat kita lebih nyaman dalam mengakses informasi. Namun, benarkah kebutuhan informasi dan hiburan menjadi sebab utama terciptanya kotak ajaib yang mempesona itu? Selain mampu memberi informasi, televisi ternyata juga dapat membawa ekses negatif terhadap pola kehidupan kita, terutama anak-anak kecil yang cenderung meniru segala sesuatu yang mempesona baginya. Sebuah penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa rata-rata anak Jakarta, dalam satu pekan menghabiskan waktu menont...

Cerita

   Hari ini saya sudah memutuskan untuk cerita, meski tidak semua bahagia. Mungkin cerita ini akan sulit diterima. Oleh orang yang terlalu banyak percaya hiburan yang melelahkan mata terutama. Tapi sudahlah, saya sudah memutuskan untuk cerita.    Semua tidak selalu terlihat semestinya. Sebagaimana harapan tak selalu ada atau pun mengada. Kita hanya mampu ucap “semestinya”. Tapi toh semua ada di bawah kuasa-Nya.    Sebagai anak SMA biasa saya belum begitu mengenal yang mana hari baik dan sebaliknya, karena saya pun tak soal itu. Memang kalau pagi terlihat biru cerah, saya bisa senyum sambil memandangi langit. Tapi kalau pun awan hitam bergulung-gulung, saya juga senyum dalam hati sambil melihat deras hujan dari balik jendela kamar, senang punya alasan pas bila sedang malas berangkat sekolah. Yang jelas ini pagi yang sama sekali berbeda. Langit cerah dan awan putih bersembulan, namun saya tak bisa tersenyum. Semua tidak selalu terlihat semestinya. Saya tida...

Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono

Untuk tahu mungkin perlu ingat. Atau mungkin sebaliknya. tidak selalu sesimpel yang dibayangkan.   Perahu Kertas Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan. “Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu. Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya, “Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit   Dongeng Marsinah /1/ Marsinah buruh pabrik arloji, mengurus presisi: merakit jarum, sekrup, dan roda gigi; waktu memang tak pernah kompromi, ia sangat cermat dan pasti. Marsinah itu arloji sejati, tak lelah berdetak memintal kefanaan yang abadi: “kami ini tak banyak kehendak, sekedar hidup layak, sebutir nasi.” /2/ Marsina...

Warna-warni

   Matahari masih terik di atas ubun-ubun. Pukul satu siang. Ini merupakan hari penghujung tahun. Rio duduk santai di teras depan rumahnya yang teduh oleh genteng berwarna merah pudar. Ia duduk di atas sofa kayu yang tidak empuk karena bantal pelapisnya sedang dijemur. Di sebelahnya tersandar sebuah tas gendong yang cukup untuk dipakai bepergian satu-dua hari. Ada tulisan Eiger di kantung depannya. Rio hanya senyum-senyum kecil sendiri sambil BBM-an dengan Dina.    “Jadi berangkat jam berapa kita ni?”    “Tenang aja sih, ay. Masih panas begini. Buru-buru amat,” balas Dina.    “Ya udah, tapi nanti jangan ngambek ya kalau kena macet di jalan….”    “Iya iya, aku ke rumah kamu sekarang deh.”    “Jangan lupa bawa sarung tangan sama kaus kaki.”    “Oke.”    Tak lama kemudian Dina datang dengan tas yang lebih kecil dari tas Rio. Mirip dengan tas yang biasa dipakai siswa-siswa SMA sekarang, bedanya tidak dico...

Ada Setan

   Kalo dipikir-pikir lagi, sepertinya aku bukan orang yang cukup beruntung karena dulu harus memutuskan untuk masuk ke tempat ini. Tapi naasnya udah dua tahun aku di sini. Ga ada yang bisa dibanggain selain aku adalah angkatan pertama di kampus ini. Tunggu sebentar. Memang itu bisa dibanggakan ya? Sayangnya aku juga tidak tahu. Masuk lewat gerbang depan yang cukup lebar, terlihat jejak kotor roda-roda truk besar pengangkut pasir dan truk pengangkut alat berat. Ya, di sini memang sedang ada proyek pembangunan gedung perkuliahan baru, gedung 50 tingkat katanya.    Sampai di pintu masuk kelas, benar saja, 10 orang temanku sudah duduk rapih di deretan kursi yang membentuk setengah lingkaran. Pantulan cahaya pintu kelas yang dibuka ke dalam membuatku dapat melihat isi kelas. Di hadapan mereka duduk wajah menantang Pak Mulya, dosen Tipografi. Kulihat jam digital yang tampil di layar ponsel, pukul 08.03. Sudah lah, yang penting masuk.    “Pagii, pak,” kataku sa...

Untuk Apa

   Papan kayu yang menampilkan barisan huruf kapital yang sepertinya terbuat dari emas tergeletak di atas meja kayu yang megah. Papan itu bertuliskan: Menteri Pendidikan Nasional. Di belakang meja, sedang duduk anggun seorang bapak-bapak yang belum terlalu tua. Mungkin masih 50-an umurnya. Kerut di wajahnya bukan menunjukkan kalau dia sudah punya cucu, melainkan lebih menandakan berbagai aral rintang kehidupan yang telah banyak dilaluinya. Rambut depannya pun sudah mulai menipis. Satu-satunya yang membuatnya gagah adalah baju dinas kebesarannya, yang hanya dipakainya untuk berkantor dan mengunjungi sekolah-sekolah gratis yang telah berhasil diwujudkan. Setelah seharian penuh ia menghabiskan harinya dengan rapat koordinasi, rapat evaluasi Undang-undang baru, dan lain sebagainya, entah mengapa ia tertarik dengan buku kusam yang dimasukkannya ke tas tadi pagi sebelum berangkat ke kantor. Ketika ia membuka halaman demi halaman dengan acak, tak sengaja ia temukan selembar foto pere...