Langsung ke konten utama

Kotak Ajaib


Seiring perkembangan zaman yang selalu menuntut kemajuan, informasi menjadi salah satu kebutuhan yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini, barang elektronik berbentuk kotak yang biasa disebut televisi telah hadir hampir di setiap rumah di dunia. Televisi sebagai salah satu buah dari kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak memberi manfaat berupa informasi dan hiburan. Kecepatan dalam menyampaikan berita dan keefektifannya dalam menyampaikan pesan membuat kita lebih nyaman dalam mengakses informasi. Namun, benarkah kebutuhan informasi dan hiburan menjadi sebab utama terciptanya kotak ajaib yang mempesona itu? Selain mampu memberi informasi, televisi ternyata juga dapat membawa ekses negatif terhadap pola kehidupan kita, terutama anak-anak kecil yang cenderung meniru segala sesuatu yang mempesona baginya.
Sebuah penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa rata-rata anak Jakarta, dalam satu pekan menghabiskan waktu menonton 30-35 jam. Ini adalah jumlah yang terlalu besar untuk kebutuhan hiburan yang dianggap sehat bagi anak. Maka tak heran bila ada sebagian orang yang selalu haus hiburan padahal ia tidak memiliki pekerjaan. Hasil penelitian lain (YKAI 2002) menunjukkan bahwa alasan anak menonton televisi lebih sebagai hiburan (72%) ketimbang menambah pengetahuan (24,2%).
Pemerintah telah mengatur Undang-Undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 1997 tentang penyiaran sebagai dasar pengaturan dan pembinaan penyelenggaraan penyiaran dimana penyiaran merupakan bagian integral dari pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dalam upaya mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini tercantum dalam BAB II Undang-Undang Penyiaran Nomor 24 tahun 1997 sbb.
Pasal 1: Penyiaran diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
Pasal 2: Penyiaran berdasarkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kemanfaatan, pemerataan, keseimbangan, keserasian dan keselarasan, kemandirian, kejuangan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pasal 3: Penyiaran bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap mental masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan membangun masyarakat adil dan makmur.
Pasal 4: Penyiaran mempunyai fungsi sebagai media informasi dan penerangan, pendidikan dan hiburan, yang memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.
Pasal 5: penyiaran diarahkan untuk
a. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia
b. Menyalurkan pendapat umum yang konstruktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pembangunan.
c. Meningkatkan ketahanan budaya bangsa
d. Meningkatkan kesadaran hukum dan disiplin nasional yang mantap dan dinamis
Jika melihat Undang-Undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 1997 sebagai aturan dasar penyiaran di Indonesia tersebut, sudahkah tayangan-tayangan yang sering kita tonton di televisi telah menggunakan “helm standar” yang telah ditentukan negara? Belakangan ini, kotak ajaib itu dipenuhi tayangan-tayangan yang sangat jauh dari lima pasal tujuan penyiaran tersebut. Kaidah bahwa televisi dapat menjadi media yang paling efektif dalam transformasi nilai moral dan etika tampaknya sama sekali tak dirisaukan para creator industri pertelevisian di negeri ini.
Lihat saja terjangan acara reality show yang pada satu stasiun televisi saja terdapat empat acara sejenis yang ditayangkan terus menerus dari senin-jumat. Sebut saja Termehek-mehek, Realigi, Orang Ketiga, dan Fans. Sebagaimana dikatakan John Nais bitt dalam buku High Tech High Touch, televisi telah merangsang kehausan voyeuristik kita untuk menyaksikan drama nyata kehidupan orang lain tanpa memperdulikan wilayah privasi. Voyeuristik adalah sifat atau hasrat untuk mengintip orang lain. Semakin banyak acara yang mengungkap kehidupan hingga aib orang lain seperti ini, penonton akan didorong untuk makin tidak sensitif bahwa hal tersebut sebenarnya tidak pantas. Saking asiknya mengintip, kadang penonton tak menyadari adanya pewajaran dan pembiasan pelanggaran hukum, seperti penculikan dan tindak kekerasan ditampilkan secara wajar.
Sayangnya, bila acara itu dapat memberikan dampak negatif bagi penonton dewasa yang tidak kritis, apalagi bila acara itu disaksikan oleh anak kecil yang sedang mengalami pertumbuhan perilaku. Sebuah harian Jakarta pernah melakukan penelitian bahwa anak-anak di Indonesia menonton televisi rata-rata tiga sampai enam jam per hari. Itu berarti dua kali lipat dibandingkan anak Australia, tiga kali lipat dibandingkan anak Amerika, dan lima kali lipat dibandingkan dengan anak Kanada. Padahal, dampak negatif itu bukan hanya dari sisi psikologis saja, melainkan juga aspek kesehatan, dan sekali lagi, anak-anak adalah golongan yang paling rentan terhadap pengaruh buruk itu
Anak yang menonton televisi sehari penuh tentunya tidak lebih baik daripada anak yang mencoba belajar membaca selama satu menit. Menurut penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Amerika Serikat terungkap bahwa televisi ternyata cuma bagus untuk ditonton pada anak-anak dengan rentang usia tertentu. Pada anak di bawah usia tiga tahun (batita), dampak negatif televisi justru lebih terasa. Terbukti tayangan televisi dapat menurunkan kemampuan membaca, membaca komprehensif, bahkan penurunan memori pada anak. Batita yang terlalu sering menonton televisi akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan stimulasi yang baik bagi proses tumbuh kembangnya.
Sebab, televisi cuma menyodorkan stimulasi satu arah. Dampak sinar biru pada Televisi memancarkan sinar biru yang juga dihasilkan oleh matahari. Namun sinar biru ini berbeda dengan sinar ultra violet. Sinar biru tak membuat mata mengedip secara otomatis. Namun parahnya, sinar biru langsung masuk ke retina tanpa filter. Panjang gelombang cahaya yang dihasilkan adalah 400-500nm sehingga berpotensi memicu terbentuknya radikal bebas dan melukai fotokimia pada retina mata anak. Sepuluh tahun kemudian saat anak sudah dewasa, kerusakan yang ditimbulkan oleh sinar biru terlihat amat jelas. Retina mata tak lagi bening sehat seperti masa kanak-kanak sehingga kemampuan berfungsinya pun menjadi berkurang. Karena itu, para ahli neuroscience sepakat, yang dkutip dari situsnya www.tvturnoff.com bahwa menggunakan mata menonton televisi terlalu banyak akan membuat anak kesulitan membaca.
Selanjutnya, tidak hanya kesehatan mata yang mampu diganggu oleh kegiatan menonton yang berlebihan itu, otak sebagai pusat kendali tubuh juga berisiko terkena dampak negatifnya. Televisi memiliki dampak positif dan negatif bagi anak. Tetapi membiarkan anak menonton televisi sepanjang hari, pastinya akan menurunkan tingkat kecerdasan anak, papar dr. Hardiono D. Pusponegoro SpA., dokter spesialis anak konsultan neurology dari RSCM. Beliau menjelaskan, dengan hanya menonton televisi, otak kehilangan kesempatan mendapat stimulasi dan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang lain, bermain kreatif, dan memecahkan masalah. Selain itu, televisi bersifat satu arah, sehingga membuat anak kurang mengeksplorasi dunia tiga dimensi dan kehilangan peluang mencapai tahapan perkembangan yang baik.
Sebuah penelitian di Amerika menunjukkan anak usia di bawah lima tahun yang rata-rata menonton televisi 2 jam sehari, setelah usianya beranjak 6-7 tahun diketahui mengalami penurunan kemampuan membaca dan daya ingat. “Otak berfungsi merencanakan, mengorganisasi dan mengurutkan perilaku untuk kontrol diri sendiri, konsentrasi atau atensi dan menentukan baik atau tidak. "Pusat di otak yang mengatur hal ini adalah korteks prefrontal yang berkembang selama masa anak dan remaja," papar dr. Hardiono kembali. Televisi dan game video yang mindless (tak membutuhkan otak untuk berpikir) akan menghambat perkembangan bagian otak ini. Dengan hanya menonton televisi saja, otak kehilangan kesempatan mendapat stimulasi dari kesempatan berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial, bermain kreatif dan memecahkan masalah.

            Mungkin, negeri ini memang tidak lebih baik bila tanpa televisi. Namiun, jika kita lihat berbagai konten yang disajikanya, ternyata kotak ajaib bernama televisi itu cenderung mengarahkan penontonnya terhadap budaya glamour dan perilaku konsumtif, serta menjadikan anak remaja lebih cepat matang secara seksual. Semoga KPI dan seluruh masyarakat dapat selalu bersinergi membangun generasi yang lebih menyukai “kotak ajaib” yang menawan daripada kotak buku, dengan mengkikis nilai-nilai negatif yang disiarkan dalam kotak itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review di Tengah Jalan

Selama Sembilan tahun, dari SD hingga SMA pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tak pernah lepas dari papan tulis. Puluhan tahun dibutuhkan untuk dapat lulus dari sekolah militer. Lalu, kini saya harus menghabiskan tiga tahun untuk belajar di politeknik yang baru dibuka ini, Politeknik Negeri Media Kreatif. Muncullah pertanyaan, ilmu apa yang akan saya raih hanya dalam waktu tiga tahun disini. Hari perdana kuliah, dengan baju seragam hitam-putih dan ruangan kelas yang cukup nyaman untuk belajar, semua terlihat sempurna. Berusaha mengenal satu sama lain, menciptakan suasana yang ingin dirasakan siapapun. Kelas pertama yang kami tempati itu terlihat cukup bagus karena dosen langsung menghadap jendela lebar di belakang kami yang dapat menampilkan setengah wilayah Srengseng Sawah. Di depan ruangan itu terpampang tulisan cukup besar, “Penerbitan”. Namun, ternyata tulisan itu tidak cukup menggambarkan apa yang harus saya lakukan disini. Apa yang harus saya pelajari di tempat ini ...

Kemiskinan Tiada Akhir

Kemiskinan menjadi masalah yang tiada akhir di negeri ini. Sebelum merdeka, rakyat di negeri ini harus menggunakan pakaian berbahan karung goni untuk menahan dinginnya malam. Saat ini, fenomena serupa ternyata juga tidak sulit ditemukan di pinggir jalan kota Jakarta. Bedanya saat ini dengan kaus lusuh berwarna cerah yang dibagikan saat masa kampanye. Kasus mutilasi terhadap anak jalanan yang dilakukan babe, seakan menyadarkan kembali, ternyata masih banyak anak-anak terlantar yang masih diselimuti kemiskinan. Peralihan zaman telah terjadi dan persoalan kemiskinan masih menggurita di negeri kepulauan yang kaya akan sumber daya alam ini. Akankah kemiskinan menjadi masalah bangsa Indonesia yang tiada akhir? Untuk menjawab pertanyaan diatas, penulis akan membedah masalah ini dari sudut pandang yang berbeda. Sebelumnya, mari lihat sedikit fakta mengejutkan di balik negara Indonesia yang begitu sulit keluar dari kubangan kemiskinan. Faktanya, saat ini, tanah Papua menghasilkan kekayaan tam...

Cerita

   Hari ini saya sudah memutuskan untuk cerita, meski tidak semua bahagia. Mungkin cerita ini akan sulit diterima. Oleh orang yang terlalu banyak percaya hiburan yang melelahkan mata terutama. Tapi sudahlah, saya sudah memutuskan untuk cerita.    Semua tidak selalu terlihat semestinya. Sebagaimana harapan tak selalu ada atau pun mengada. Kita hanya mampu ucap “semestinya”. Tapi toh semua ada di bawah kuasa-Nya.    Sebagai anak SMA biasa saya belum begitu mengenal yang mana hari baik dan sebaliknya, karena saya pun tak soal itu. Memang kalau pagi terlihat biru cerah, saya bisa senyum sambil memandangi langit. Tapi kalau pun awan hitam bergulung-gulung, saya juga senyum dalam hati sambil melihat deras hujan dari balik jendela kamar, senang punya alasan pas bila sedang malas berangkat sekolah. Yang jelas ini pagi yang sama sekali berbeda. Langit cerah dan awan putih bersembulan, namun saya tak bisa tersenyum. Semua tidak selalu terlihat semestinya. Saya tida...