Langsung ke konten utama

Cerita

   Hari ini saya sudah memutuskan untuk cerita, meski tidak semua bahagia. Mungkin cerita ini akan sulit diterima. Oleh orang yang terlalu banyak percaya hiburan yang melelahkan mata terutama. Tapi sudahlah, saya sudah memutuskan untuk cerita.
   Semua tidak selalu terlihat semestinya. Sebagaimana harapan tak selalu ada atau pun mengada. Kita hanya mampu ucap “semestinya”. Tapi toh semua ada di bawah kuasa-Nya.
   Sebagai anak SMA biasa saya belum begitu mengenal yang mana hari baik dan sebaliknya, karena saya pun tak soal itu. Memang kalau pagi terlihat biru cerah, saya bisa senyum sambil memandangi langit. Tapi kalau pun awan hitam bergulung-gulung, saya juga senyum dalam hati sambil melihat deras hujan dari balik jendela kamar, senang punya alasan pas bila sedang malas berangkat sekolah. Yang jelas ini pagi yang sama sekali berbeda. Langit cerah dan awan putih bersembulan, namun saya tak bisa tersenyum. Semua tidak selalu terlihat semestinya. Saya tidak bisa ikut ulangan hari ini. Tak ada ongkos untuk menuju sekolah yang cukup jauh.
   Jendela kamar terlihat seperti bantal yang siap dipukul. Rasa kesal yang mengasap di kepalaku bias tak berwujud. Tak tahu harus kesal pada siapa. Tolong jangan Tanya kenapa. Karena saya pun tak mau. Yang jelas sekarang saya malu. Banyak malu memang tak buat kita jadi banyak tahu. Ya sudahlah. Yang penting saya sudah cerita. Daripada terlena oleh rasa kesal di kepala, lebih baik saya cerita. Berharap huruf ‘t’nya hilang dan berubah jadi ceria.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review di Tengah Jalan

Selama Sembilan tahun, dari SD hingga SMA pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tak pernah lepas dari papan tulis. Puluhan tahun dibutuhkan untuk dapat lulus dari sekolah militer. Lalu, kini saya harus menghabiskan tiga tahun untuk belajar di politeknik yang baru dibuka ini, Politeknik Negeri Media Kreatif. Muncullah pertanyaan, ilmu apa yang akan saya raih hanya dalam waktu tiga tahun disini. Hari perdana kuliah, dengan baju seragam hitam-putih dan ruangan kelas yang cukup nyaman untuk belajar, semua terlihat sempurna. Berusaha mengenal satu sama lain, menciptakan suasana yang ingin dirasakan siapapun. Kelas pertama yang kami tempati itu terlihat cukup bagus karena dosen langsung menghadap jendela lebar di belakang kami yang dapat menampilkan setengah wilayah Srengseng Sawah. Di depan ruangan itu terpampang tulisan cukup besar, “Penerbitan”. Namun, ternyata tulisan itu tidak cukup menggambarkan apa yang harus saya lakukan disini. Apa yang harus saya pelajari di tempat ini ...

Idul Adha

Assalamualaikum. Semoga kita selalu dalam keadaan sehat sejahtera. Tak terasa sekarang sudah idul adha aja. Sepertinya baru kemarin kita saling bersalaman di idul fitri. Gimana rasanya ketika kita dimasukkan dalam time capsule, seperti hanya duduk sebentar dan tiba-tiba waktu telah terlewat setengah tahun. Itulah yang baru saya rasakan ketika hari ini mendengar takbir berkumandang. Hidup dalam rutinitas sebagai karyawan swasta memang kelihatannya nyaman. Berangkat pagi - pulang sore, tiap akhir bulan berwajah cerah ceria. Tapi tiap malam senin bermuram gulita. Misuh-misuh sendiri, mengapa senin begitu cepat datangnya. Takbir yang dikumandangkan tiap waktu shalat tiba menjadi terdengar megah di hari ini. Takbir yang jadi napak tilas peristiwa kemenangan nabi Ibrahim atas bisikan setan. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahil hamd. Dalam sirahnya yang diceritakan dalam AlQuran nabi Ibrahim lewat mimpinya diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya sendiri Ismail alaihisal...

Jalan Malioboro

Sengaja atau tidak, kita terus mengisi hidup ini dengan kasih sayang, entah bersama keluarga, pasangan hidup, ataupun teman. Saya kira itu juga cukup menjadi alasan mengapa kita masih bersemangat menjalani hari ini. Sengaja atau tidak, menjadi hal yang tidak mesti ketika kita melakukan sesuatu dengan senang hati. Dalam berbagai trip yang saya lakukan, ketidaksengajaan justru membawa saya pada banyak pengalaman yang sulit dilupakan. Salah satunya terjadi di Jalan Malioboro. Sebagai pelajar dengan kemampuan finansial yang masih middle class, satu-dua kali saya beruntung dapat mencicipi udara segar Kota Pelajar. Di antaranya adalah ketika menemani teman saya beli kaos oblong Dagadu. Pada masa itu, kaos oblong bergambar unik itu sedang naik daun di lingkungan sekolah menengah kami di Kuningan, Jawa Barat. Seorang teman berniat membeli banyak kaos oblong tersebut dari pusatnya dan menjual kembali ke adik-adik kelas. “Jis, ikut gue ke Jogja yuk .” “ Ayuk .” Jawaban itu teruca...