Langsung ke konten utama

Postingan

TTDJ

Hari ini hari apa ya? Hari minggu kan ya? Huh, coba semua hari namanya hari minggu ya. Kan enak ga harus macet-macetan berangkat ke kantor terus. Terus kalo nagih utang juga enak. Ditanya "Kapan mau bayar?" Dia jawab "Iya entar bang minggu kedua." Itu berarti lusa dia bakal bayar. Kan minggu itungannya jadi hari. Hehehee. Lagi pada ngapain ni? Enak ya bisa online terus, sampe mau-maunya baca Blog yang ga penting ini. Jangan habiskan waktumu sia-sia. Jangan baca Blog ini kalo mau umur kamu pendek. Loh! Emangnya gue malaikat Izrail. Daripada makin ngaco, mending dengerin sharing ane aja ya. Iya denger. Belum bisa denger juga ya? Coba colokin headset ke komputer ato handphone kamu. Sudah? Denger kan? Belum kedengeran ya? Kalo di headset kamu ga kedengeran suara apa-apa berarti kamu benar-benar jenius. Mau aja dipinterin sama orang pinter. Tapi masih ada yg lebih pinter loh. Kalo sering naik motor di jalan kamu pasti akan nemuin beberapa contohnya. Misalnya: orang y...

Budaya Dasar

Bulan ini bisa dibilang bulan yang penuh warna buat gue. Bukan karena kaos kaki merah di kiri dan kaos kaki biru di kanan yang gue pake saat orientasi MaBa. Tapi karena di bulan ini gue mulai kuliah lagi. Bagi sebagian orang, kata kuliah menjadi semacam kata eksklusif. Keren, intelek, istilah itu yang ada dalam benak. Bener sih. Dengan demikian, status mahasiswa adalah sebuah cover yang keren. Sampul yang terlihat berkelas. Lalu bagaimana atau apa sebenernya kegiatan kuliah itu sendiri? Jawabannya: belajar. Ya, ternyata cuma itu kok jawabannya. Tergantung bagaimana kita mengartikan kata belajar, that's the point. Sampai di ruang kelas, gue bertemu dengan banyak karakter luar biasa. Dengan beragam busana dan tampilan yang penuh warna. Hari senin adalah hari pertama kami kuliah dan berkenalan satu sama lain. Pada hari itu pula gue kenal ada yg namanya mata kuliah Ilmu Alamiah Sosial Budaya Dasar.

Merdeka

Saya mau mengawali tulisan ini dengan mengutip sebuah buku berjudul Doorstoot Nar Djokja . Buku ini di antaranya bercerita tentang serangan Operasi Kraai yang dilakukan di bawah komando Jenderal Spoor. Pada 19 Desember 1948 tepatnya, serangan ini dilakukan dengan tujuan menduduki wilayah strategis Republik Indonesia di pulau Jawa. Catatan Batalyon 5 Resimen V KNIL menyebutkan, “Dari jauh kelihatan Kota Solo sedang dibakar. Di antara kepulan asap, tampak beberapa pesawat terbang kami mulai menukik, sambil menyiramkan peluru. Pasukan kami segera dipisahkan. Kompi IV akan menuju Solo lewat jalan utama, sedangkan Kompi II bergerak sedikit ke arah Selatan, melalui jalan lama. Di belakang Kompi IV, menyusul Kompi III dan Kompi I, untuk ikut menyerbu dengan tugas utama menduduki sejumlah sasaran strategis.” “Pasukan kami kemudian menemukan Solo yang sudah berubah menjadi sebuah kota mati. Sepi, senyap, sedangkan api masih terus-menerus menghanguskan sejumlah bangunan. Sekitar pukul 16.00...

8 Agustus

Apalah arti sebuah nama. Ungkapan dari mana ini? Kata siapa sebuah nama itu tidak berarti apa-apa. Namun ini menjadi benar adanya bagi sebagian orang. Sebagian yang tetap diam di kala temannya yang lain telah menemukan arah. Sebagian yang terbawa arus deras karena bersemboyan "take it with the flow." Tetapi menarik bila kita lihat dari perspektif yang lain. Di saat ada seorang perempuan berumur 16 tahun yg menjadi duta ASEAN untuk PBB, dan Ia anak Indonesia. Seorang anak yang mampu berpidato dalam 6 bahasa. Ia punya ungkapan "Tak penting siapa kita. Yang terpenting adalah apa yang bisa kita beri kepada sekitar." Inilah sudut pandang yang terlihat remeh. Bagaimana kita memandang diri sebagai subjek. Oh iya. Sorry bukan maksud mau ceramah atau jadi motivator. Hanya mengutip pendahuluan khutbah Jumat: "khususnya untuk mengingatkan diri sendiri & umumnya untuk hadirin sekalian." Ga tau kenapa inilah yang terlintas di benak gue setelah menonton dua film:...

Several Years Before

   Melihat kembali album foto yang sudah usang. Sampulnya pun sudah lepas. Di dalamnya ada foto ketika masih bayi. Ini membuat gue pengin melihat tayangan flashback perjalanan masa kecil yang sungguh aduhai.     Mencuil lagu yang dinyanyikan Vidi Aldiano: "Apalah arti hidup ini tanpa cinta dan kasih sayang." Gue melihat kembali ke belakang, bahwa meski tanpa satu pun pacar yang menemani masa kecil (kayak anak SD skarang), gue sepertinya cukup menikmati masa-masa itu. Harus diakui, cukup banyak konflik yg terjadi dengan teman masa SD menghiasi masa pertumbuhan mental gue. Tapi itu semua selesai sudah ketika gue sampai di rumah. Nyokap menjadi pelabuhan internasional segala keluh tangis gue. Dan naasnya, rentetan scene masa SD itu baru gue sadari sekarang.     Tanpa harus besar dalam kepulauan kecil nun jauh di BangkaBelitung macam Andrea Hirata. Atau jadi anak kecil berkacamata yg ditemani kucing masadepan, seperti Nobita. Gue enjoy tumbuh besar ...

Jurnalisme

Kualitas jurnalisme menentukan kualitas demokrasi sebuah negara. Itu kata pakar jurnalisme dari eropa. Dan itu juga saya tahu dari liputan sebuah pertemuan Pemred berskala nasional di Nusa Dua, Bali. Lalu pada saat bersamaan, di rumah, ketika saya menulis ini, adik saya menangis kencang disemprot Bapak karena terus berisik rebutan duit Rp2000. Hubungannya apa? Dari pertemuan Pemred Nasional yg dihadiri Presiden dan beberapa menteri itu, ada beberapa faktor yg sedikitnya menjadi latar belakang pertemuan tersebut. Kenaikan harga BBM, beragam kasus korupsi anggota partai penguasa, atau simpulnya: turunnya kredibilitas penguasa di mata rakyat (lewat media). Di sini media menjadi fokus utama pihak Istana. Dimana telah lama diketahui, di banyak tempat, media sebagai kekuatan super yang mampu menentukan mulusnya suatu pemerintahan. Dengan menjaga citra independesinya, media mampu menggiring opini publik dan mengajukan opini atas nama rakyat. Bila ada seorang bapak yang menyemprotkan air ke ...

Berbeda

Pada suatu sore, ketika keluar dari suprermal karawaci saya harus berjalan pelan di belakang dua orang (berbusana) wanita. Satu yang sebelah kanan mengenakan rok mini yang jelas tidak seksi, karena dibawah rokmini itu terpampang kaki yang kekar dengan bulu kaki yang dicukur asal. Sebelah kirinya memakai bluejeans ekstra ketat mmerlihatkan pinggulnya yang seksi. Namun lihatlah tumit yang memakai wedges itu: gelap berdaki. Oh my God. I'm so sorry. Saya sungguh tidak berniat menhina siapa pun! Pemandangan yang tak wajar ini menarik untuk dipahami. Bagaimana seorang, oh mungkin dua orang, yang memiliki orientasi seksual berbeda merasa perlu menunjukkan statusnya di depan publik. Bahkan mungkin ada juga anak kecil yang melihat dan bertanya, "Mah, itu cewek atau cowok yah?" Sang Ibu yang hanya biasa menonton 'Mamah Dedeh' dan 'Cinta Fitri' pun bingung menjawabnya. Menarik untuk melihat definisi dan keterangan tentang kaum biseksual ini dari berbagai sumber. Wi...