Langsung ke konten utama

Postingan

Ramadhan Di Televisi

Selamat pagi. Semoga kita selalu dalam keadaan sehat. Selamat karena kita telah berada dalam bulan suci Ramadhan. Bulan suci umat muslim sedunia. Ketika kita mau meng-update status di facebook dengan unsur kata Ramadhan maka di layar komputer akan tampil sebaris nama-nama teman kita yang diakhiri dengan kata “Ramadhan”. Dalam hati muncul pertanyaan, “sadar gak ya mereka telah lahir pada bulan yang istimewa?” Entahlah, yang pasti beruntunglah mereka yang lahir di bulan yang mulia ini. Bicara mulia, kenapa ya cuma hakim di pengadilan yang dipanggil “yang mulia”? Apa karena predikatnya sebagai pemegang keputusan hukum lantas kita mengharap belas kasihannya dan memanggilnya demikian. Sungguh, mulia itu hanyalah sifat Tuhan Yang Maha Esa. Adapun beberapa manusia yang berhak disematkan kata mulia adalah mereka yang sifatnya mencerminkan bahwa mereka kenal dengan Tuhannya. Bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah. Sewajarnya kita mengisi waktu pada bulan ini dengan kegiatan yang baik nan ...

Germany and I

Semifinal Jerman melawan Italia beberapa hari yang lalu menjadi tontonan paling menarik bagi gue pada gelaran piala Eropa 2012 kemarin. Bukan karena pada laga itu, tim yang gue jagokan kalah dengan menyakitkan. Bukan pula karena bola itu bundar – ungkapan klise untuk mengatakan kalah dan menang itu sudah biasa. Laga tersebut berlangsung seru. Gue yang biasa nonton sendiri (karena yang lain udah pada tepar) di ruang tengah, kali ini ditemani adek gue yang malem itu tumben masih bangun. Babak pertama berjalan dengan seru. Jerman tertinggal 1-0 dan gue optimis Jerman masih bisa menang. Babak kedua menjadi pertandingan yang menegangkan karena tim Der Panzer mengepung baris pertahanan Italia. Namun ternyata Joachim Loew salah memerkirakan kekuatan lini tengah timnas Italia. Passing-passing pendek dalam penguasaan bola Jerman berhasil dipatahkan oleh Andrea Pirlo dan langsung thru-pass lambung ke arah striker. Mario Balotelli yang memang berpostur tingg...

Rumah

Pada pagi yang dingin ini (mungkin sejuk lebih tepatnya), gue mulai menyadari sedang tinggal di mana. Rumah yang yang dihuni oleh sebuah keluarga utuh yang konservatif. Menjaga erat keyakinan turun-temurun dari Kakekku (Ayah Ibuku) bahwa agama merupakan satu-satunya hal yang mesti jadi pegangan hidup. Tanpanya manusia dapat berjalan oleng di atas dunia ini. Oleh karena itu pula sejak kecil gue sudah dimasukkan ke TK Islam Swasta (emang gak ada, TK Negeri). Selnjutnya gue disekolahkan di SDIT, lalu lanjut ke MTs. Sampai akhirnya lulus dari sebuah Madrasah Aliyah di daerah Kuningan, Jawa Barat. Pada perjalanannya manusia kerap mengenal rasa dan nilai baru dalam hidupnya secara sadar atau tidak. Tak terkecuali gue yang sejak kecil selalu disuruh solat lima waktu. Wajib, katanya. Agama menjadi persoalan fundamental dalam imperial keluarga gue. Kalo ada salah satu anaknya yang udah gede ketahuan gak solat atau menunda solat, maka bokap gue bisa melepas amarahnya seperti melepas burung M...

Semeleh

Dalam menjalani hidup ini, terkadang kita (termasuk saya) lebih suka mengedepankan dugaan atau prasangka dalam menilai situasi ataupun individu. Misalnya saja, ada seorang seorang anak SMP yang pulang ke rumah dengan motor yang lecet dan celana di bagian dengkul yang sobek dan basah kena darah. Karena kemarin ketika pulang kerja sang Ayah melihat anak berseragam SMP kebut-kebutan di jalan sambil membonceng temannya, maka sang anak yang datang dengan wajah pucat itu disambut dengan perkataan: “Makannya! Baru bisa naik motor mah gak usah belagu ngebut-ngebut! Rusak deh tuh motornya. Emangnya kamu bisa benerin?” Alih-alih berharap ada yang segera menolong dengkulnya di rumah, si anak malah cemburu sama motor yang tadi jatuh karena keserempet truk tangki Pertamina ketika ia mencoba menyalip dari sebelah kiri dengan ragu-ragu. Ketika kita bersikap berdasarkan informasi yang baru dilihat, itu merupakan siklus normal respon otak manusia. Hal itu tak jauh berbeda dengan halaman facebook ya...

Sistem Tanda

Ada sekian banyak orang di seluruh belahan dunia yang memahami hal-hal dalam semiotika justru bukan sebagai semiotika Umberto Eco ( Travels in Hyperreality , 1986) Dari salah satu buku yang pernah gue baca, gue teringat tulisan Pak Alex Sobur bahwa, “Tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi. Manusia dengan perantaraan tanda-tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Banyak hal bisa dikomunikasikan di dunia ini.” Pada dasarnya semiotika merupakan suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda-tanda. Contoh sederhananya, bagaimana kita memahami: bila traffic light menyala merah maka harus berhenti (bukannya ngeloyor terus sambil liat kanan-kiri). Tanpa harus belajar semiotika atau ilmu Komunikasi, kita sebenarnya telah banyak menerapkan sistem penandaan sebagai sebuah panduan awal komunikasi. Salah satu contoh sistem tanda yang berlaku di rumah gue misalnya. Di rumah gue ada dua kamar mandi: satu di bawah, satu lagi di lantai atas (berdampingan dengan r...

Tak Sengaja

Awan pagi meluruhkan gerimis, tenang dan teduh. Gumpalan air itu tak bisa bertahan lama di atas sana beku dalam selimut lembut. Seperti hatiku yang hampir membeku. Untung saja ada mentari yang datang meski terlambat. Memecah balok sepi sampai ke tepi. Ia cantik memesona, bagai mentari di pantai Kuta. Cahaya wajahnya menghangatkan, memenuhi pembuluh darah di kepala. Kehadirannya membuat gelembung-gelembung kecil dalam dada. Aku tak tahu ini apa. Tapi sungguh, ini tak disengaja. Di tempatku bekerja, aku lebih suka ceria. Tempat itu memang tidak biasa, menghadirkan suasana yang tidak bisa kau menolaknya. Kaum hawa mendominasi jumlah populasi. Hadir di mana-mana dengan wangi dan make-up berwarna. Menebar senyawa halus tak terlihat. Satu di antaranya berhasil membebat pikiranku. Namun aku tak cukup berani mendekatinya (inilah kelemahanku kawan, tolong jangan beri yahu yang lain). Sampai hari berkumpul menjadi bulan, aku belum bisa akrab dengannya. Hanya sapaan satu-dua patah kata. Akhirnya...

Cantik

Biar senja menghela bayangan sampai gelap Biar laut dihirup langit dan dibungkus awan hingga gelap Biar cantik tetap menjadi rahmat tak terperi yang tak dapat kugapai Sungguh, biarkan semua itu terjadi dan aku tak dapat lagi menangkap cahaya fajar Karena, biarpun bayangan panjang-panjang itu dapat kupatahkan agar tak ada lagi yang tertusuk Biarpun awan selalu menjaga dirinya untuk tetap putih berkilau Kecantikan tetap menjadi  matahari terdekat tanpa galaksi Ketika ia hadir Waktu pun dapat dibungkus macam gulali Aksara menjadi tumpul layaknya dengkul Lampu putih memudar tanpa disepuh Hanya ia yang terang Seperti bulan purnama di atas genangan air yang tenang