Langsung ke konten utama

Postingan

Rumah

Pada pagi yang dingin ini (mungkin sejuk lebih tepatnya), gue mulai menyadari sedang tinggal di mana. Rumah yang yang dihuni oleh sebuah keluarga utuh yang konservatif. Menjaga erat keyakinan turun-temurun dari Kakekku (Ayah Ibuku) bahwa agama merupakan satu-satunya hal yang mesti jadi pegangan hidup. Tanpanya manusia dapat berjalan oleng di atas dunia ini. Oleh karena itu pula sejak kecil gue sudah dimasukkan ke TK Islam Swasta (emang gak ada, TK Negeri). Selnjutnya gue disekolahkan di SDIT, lalu lanjut ke MTs. Sampai akhirnya lulus dari sebuah Madrasah Aliyah di daerah Kuningan, Jawa Barat. Pada perjalanannya manusia kerap mengenal rasa dan nilai baru dalam hidupnya secara sadar atau tidak. Tak terkecuali gue yang sejak kecil selalu disuruh solat lima waktu. Wajib, katanya. Agama menjadi persoalan fundamental dalam imperial keluarga gue. Kalo ada salah satu anaknya yang udah gede ketahuan gak solat atau menunda solat, maka bokap gue bisa melepas amarahnya seperti melepas burung M...

Semeleh

Dalam menjalani hidup ini, terkadang kita (termasuk saya) lebih suka mengedepankan dugaan atau prasangka dalam menilai situasi ataupun individu. Misalnya saja, ada seorang seorang anak SMP yang pulang ke rumah dengan motor yang lecet dan celana di bagian dengkul yang sobek dan basah kena darah. Karena kemarin ketika pulang kerja sang Ayah melihat anak berseragam SMP kebut-kebutan di jalan sambil membonceng temannya, maka sang anak yang datang dengan wajah pucat itu disambut dengan perkataan: “Makannya! Baru bisa naik motor mah gak usah belagu ngebut-ngebut! Rusak deh tuh motornya. Emangnya kamu bisa benerin?” Alih-alih berharap ada yang segera menolong dengkulnya di rumah, si anak malah cemburu sama motor yang tadi jatuh karena keserempet truk tangki Pertamina ketika ia mencoba menyalip dari sebelah kiri dengan ragu-ragu. Ketika kita bersikap berdasarkan informasi yang baru dilihat, itu merupakan siklus normal respon otak manusia. Hal itu tak jauh berbeda dengan halaman facebook ya...

Sistem Tanda

Ada sekian banyak orang di seluruh belahan dunia yang memahami hal-hal dalam semiotika justru bukan sebagai semiotika Umberto Eco ( Travels in Hyperreality , 1986) Dari salah satu buku yang pernah gue baca, gue teringat tulisan Pak Alex Sobur bahwa, “Tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi. Manusia dengan perantaraan tanda-tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Banyak hal bisa dikomunikasikan di dunia ini.” Pada dasarnya semiotika merupakan suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda-tanda. Contoh sederhananya, bagaimana kita memahami: bila traffic light menyala merah maka harus berhenti (bukannya ngeloyor terus sambil liat kanan-kiri). Tanpa harus belajar semiotika atau ilmu Komunikasi, kita sebenarnya telah banyak menerapkan sistem penandaan sebagai sebuah panduan awal komunikasi. Salah satu contoh sistem tanda yang berlaku di rumah gue misalnya. Di rumah gue ada dua kamar mandi: satu di bawah, satu lagi di lantai atas (berdampingan dengan r...

Tak Sengaja

Awan pagi meluruhkan gerimis, tenang dan teduh. Gumpalan air itu tak bisa bertahan lama di atas sana beku dalam selimut lembut. Seperti hatiku yang hampir membeku. Untung saja ada mentari yang datang meski terlambat. Memecah balok sepi sampai ke tepi. Ia cantik memesona, bagai mentari di pantai Kuta. Cahaya wajahnya menghangatkan, memenuhi pembuluh darah di kepala. Kehadirannya membuat gelembung-gelembung kecil dalam dada. Aku tak tahu ini apa. Tapi sungguh, ini tak disengaja. Di tempatku bekerja, aku lebih suka ceria. Tempat itu memang tidak biasa, menghadirkan suasana yang tidak bisa kau menolaknya. Kaum hawa mendominasi jumlah populasi. Hadir di mana-mana dengan wangi dan make-up berwarna. Menebar senyawa halus tak terlihat. Satu di antaranya berhasil membebat pikiranku. Namun aku tak cukup berani mendekatinya (inilah kelemahanku kawan, tolong jangan beri yahu yang lain). Sampai hari berkumpul menjadi bulan, aku belum bisa akrab dengannya. Hanya sapaan satu-dua patah kata. Akhirnya...

Cantik

Biar senja menghela bayangan sampai gelap Biar laut dihirup langit dan dibungkus awan hingga gelap Biar cantik tetap menjadi rahmat tak terperi yang tak dapat kugapai Sungguh, biarkan semua itu terjadi dan aku tak dapat lagi menangkap cahaya fajar Karena, biarpun bayangan panjang-panjang itu dapat kupatahkan agar tak ada lagi yang tertusuk Biarpun awan selalu menjaga dirinya untuk tetap putih berkilau Kecantikan tetap menjadi  matahari terdekat tanpa galaksi Ketika ia hadir Waktu pun dapat dibungkus macam gulali Aksara menjadi tumpul layaknya dengkul Lampu putih memudar tanpa disepuh Hanya ia yang terang Seperti bulan purnama di atas genangan air yang tenang

Dua Hari

Langit dan awan, dua unsur berbeda yang harmonis seirama. Bila langit berwarna biru terang, awan memantulkan silaunya yang putih terang. Bila langit kelabu, awan mendadak muram dan gelap. Namun mengapa itu tak terjadi pada senyawa berbeda yang selalu melengkapi; warna hitam kopi tidak menentukan banyaknya kandungan gula. Rasanya pahit atau manis, kopi tetap berwarna hitam. Apalagi bila dibandingkan dengan pertemuan dua mata manusia yang tidak disengaja. Seperti hari lainnya, pekerjaan ini menyedotku dalam rutinitas beku yang membuatku harus bersabar, sabar untuk berdiri tanpa melakukan apa-apa selama beberapa jam. Terutama ketika sepi pengunjung, hanya menunggu dan menerka, di luar hujan atau tidak. Karena dalam suasana seperti ini, yang paling sering dipikirkan hanya satu; jam pulang kerja. Dalam waktu kosong yang tenang tersebut, muncul seorang perempuan berbaju hitam yang memang berdiri di tempatnya untuk profesi yang sama sepertiku. Tetapi dia tidak mengenakan seragam kaos putih ya...

Unyil

Assalamualaikum – semoga kalian dalam keadaan sehat dan sejahtera. Pagi ini gue mau coba mencurahkan sedikit isi pikiran gue, yang takutnya sebentar lagi menggumpal dan tersapu bersama debu. Sebenarnya kalau kita perhatikan, manusia itu hidup dan bergerak berdasarkan pikirannya tau, bener gak? Nah, karena yang lagi nyanyi di headset gue saat ini adalah Bunga di tepi jalan -nya Sheila on 7, gue pun teringat tentang seorang anak perempuan yang belakangan ini membuat gue nyaman di tempat kerja. Namanya …, ah ga usah. Ciri-cirinya aja; berusia sekitar 19 tahun, tingginya sebahu gue, dan dia agak hiperaktif (mungkin karena kebanyakan mengonsumsi cabe rawit semasa kecil). Hari-hari belakangan ini, dia sering mendekat dan ngajak gue cerita berbagai hal, mulai dari pengalaman sampai pacar. She’s very welcome to me, and it enjoyed me enough. Dengan kehadirannya, gue merasa menemukan diri gue yang selama ini terpendam. Gue bisa cerita banyak hal sama dia tanpa harus malu. Di ruang kerja...