Langsung ke konten utama

TTDJ

Hari ini hari apa ya? Hari minggu kan ya? Huh, coba semua hari namanya hari minggu ya. Kan enak ga harus macet-macetan berangkat ke kantor terus. Terus kalo nagih utang juga enak. Ditanya "Kapan mau bayar?" Dia jawab "Iya entar bang minggu kedua." Itu berarti lusa dia bakal bayar. Kan minggu itungannya jadi hari. Hehehee.

Lagi pada ngapain ni? Enak ya bisa online terus, sampe mau-maunya baca Blog yang ga penting ini. Jangan habiskan waktumu sia-sia. Jangan baca Blog ini kalo mau umur kamu pendek. Loh! Emangnya gue malaikat Izrail.

Daripada makin ngaco, mending dengerin sharing ane aja ya. Iya denger. Belum bisa denger juga ya? Coba colokin headset ke komputer ato handphone kamu. Sudah? Denger kan? Belum kedengeran ya? Kalo di headset kamu ga kedengeran suara apa-apa berarti kamu benar-benar jenius.

Mau aja dipinterin sama orang pinter.

Tapi masih ada yg lebih pinter loh. Kalo sering naik motor di jalan kamu pasti akan nemuin beberapa contohnya. Misalnya: orang yang naik motor dengan tangan mengangkang (kedua siku melebar kayak naik Harley Davidson). Mereka yg naik motor dengan posisi tangan seperti itu pasti adalah mereka yg tidak pakai Rexona. Pernah liat iklannya kan? Kalo ga pake Rexona pasti keteknya basah terus. Nah, karena keteknya basah, atas dasar efisien mereka sekalian mempersilakan masuk sebanyak-banyaknya angin ke ketek mereka. Kan lumayan, pas nyampe tujuan ketek udah kering.

Yang kedua, ini lebih pinter. Frekuensi mereka di jalan raya sekarang sudah mulai kecil. Maklum, orang pinter itu minoritas sob. Golongan yang satu ini menganut paham efektivitas yg amat radikal. Mereka menyangkutkan handphone mereka di helm. Asoy nelpon bebeb sambil naik motor. Atau mengangguk "iya-iya" karena ditelpon bos. Sebenernya ga terlalu masalah si ya. Tapi kasian aja misalkan sambil naik motor, telponan sama bebeb janjian ketemu dimana. Eh malah jadi ga bisa ketemu lagi gara-gara dia nyungsruk ke got karna ga fokus bawa motor. Maka itu ketahuilah sob, kadang kepinteran itu dapat menjerumuskan seseorang. (ke dalam got)

Nah, yang ini adalah orang pinter level selanjutnya. Kalo yang level pertama tadi orang yang naik motor sambil nelpon. Maka yang satu ini gue ga tau mereka ini orang atau kucing (yg katanya punya nyawa sembilan). Mereka adalah segolongan ekstremis paham efektivitas. Saking ekstremnya mereka tak lagi memedulikan nyawa. Mereka seperti tenaga terlatih: sms-an sambil naik motor.

Tau kan para teroris yang rela tewas dalam peristiwa bom bunuh diri? Dibandingkan golongan ini para teroris itu ga ada apa-apanya. Kalo bom bunuh diri kan matinya dalam satu detik. Kalo orang yang kelindes trék gara-gara sms-an smbil naik motor kan rentang menuju sakaratul mautnya agak lama. Coba diselamatin dulu sama warga, difoto-foto dulu, direkamin dulu. Pas sampe rumah sakit ditanya banyak dulu: ini keluarganya siapa? Siapa yang bertanggung jawab? Akhirnya beberapa saat kemudian baru dia ketemu sama malaikat.

Duh kasian ya? Bener loh. Tanpa sengaja, beberapa kisah di atas bisa jadi ada dalam dunia nyata. Ini bukan tentang pinter ato bodoh. Ini tentang kelangsungan hidup kita yang ditentukan seberapa banyak kita menggunakan akal sehat dlm sehari-hari. Ada yang bilang sih: hidup ini terlalu singkat bila kita salah memilih. Salah satunya mungkin, ya salah memilih sikap.

Auuuu. Krik-krik.

Tuh, udah malem tau. Ane pamit dulu ye. Besok pan kudu berangkat pagi kita. TTDJ.

Wassalam.

Komentar

Anonim mengatakan…
wah keren gan, makasih udah share!

Postingan populer dari blog ini

Review di Tengah Jalan

Selama Sembilan tahun, dari SD hingga SMA pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tak pernah lepas dari papan tulis. Puluhan tahun dibutuhkan untuk dapat lulus dari sekolah militer. Lalu, kini saya harus menghabiskan tiga tahun untuk belajar di politeknik yang baru dibuka ini, Politeknik Negeri Media Kreatif. Muncullah pertanyaan, ilmu apa yang akan saya raih hanya dalam waktu tiga tahun disini. Hari perdana kuliah, dengan baju seragam hitam-putih dan ruangan kelas yang cukup nyaman untuk belajar, semua terlihat sempurna. Berusaha mengenal satu sama lain, menciptakan suasana yang ingin dirasakan siapapun. Kelas pertama yang kami tempati itu terlihat cukup bagus karena dosen langsung menghadap jendela lebar di belakang kami yang dapat menampilkan setengah wilayah Srengseng Sawah. Di depan ruangan itu terpampang tulisan cukup besar, “Penerbitan”. Namun, ternyata tulisan itu tidak cukup menggambarkan apa yang harus saya lakukan disini. Apa yang harus saya pelajari di tempat ini ...

Idul Adha

Assalamualaikum. Semoga kita selalu dalam keadaan sehat sejahtera. Tak terasa sekarang sudah idul adha aja. Sepertinya baru kemarin kita saling bersalaman di idul fitri. Gimana rasanya ketika kita dimasukkan dalam time capsule, seperti hanya duduk sebentar dan tiba-tiba waktu telah terlewat setengah tahun. Itulah yang baru saya rasakan ketika hari ini mendengar takbir berkumandang. Hidup dalam rutinitas sebagai karyawan swasta memang kelihatannya nyaman. Berangkat pagi - pulang sore, tiap akhir bulan berwajah cerah ceria. Tapi tiap malam senin bermuram gulita. Misuh-misuh sendiri, mengapa senin begitu cepat datangnya. Takbir yang dikumandangkan tiap waktu shalat tiba menjadi terdengar megah di hari ini. Takbir yang jadi napak tilas peristiwa kemenangan nabi Ibrahim atas bisikan setan. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahil hamd. Dalam sirahnya yang diceritakan dalam AlQuran nabi Ibrahim lewat mimpinya diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya sendiri Ismail alaihisal...

Jalan Malioboro

Sengaja atau tidak, kita terus mengisi hidup ini dengan kasih sayang, entah bersama keluarga, pasangan hidup, ataupun teman. Saya kira itu juga cukup menjadi alasan mengapa kita masih bersemangat menjalani hari ini. Sengaja atau tidak, menjadi hal yang tidak mesti ketika kita melakukan sesuatu dengan senang hati. Dalam berbagai trip yang saya lakukan, ketidaksengajaan justru membawa saya pada banyak pengalaman yang sulit dilupakan. Salah satunya terjadi di Jalan Malioboro. Sebagai pelajar dengan kemampuan finansial yang masih middle class, satu-dua kali saya beruntung dapat mencicipi udara segar Kota Pelajar. Di antaranya adalah ketika menemani teman saya beli kaos oblong Dagadu. Pada masa itu, kaos oblong bergambar unik itu sedang naik daun di lingkungan sekolah menengah kami di Kuningan, Jawa Barat. Seorang teman berniat membeli banyak kaos oblong tersebut dari pusatnya dan menjual kembali ke adik-adik kelas. “Jis, ikut gue ke Jogja yuk .” “ Ayuk .” Jawaban itu teruca...