2 Januari 2016

2016

Selamat pagi. Semoga kita selalu dalam keadaan sehat dan sejahtera.
Ini adalah hari pertama di tahun 2016. Semalam, entah sudah pergantian tahun yang keberapa buatku. Malam pergantian tahun merupakan hal penting buat banyak orang di dunia. Tapi anehnya enggak buatku. Terompet, kembang api, air mancur, dan petasan roket menjadi hal yang seru buat ditonton. Tangerang selatan, daerah tempat aku tinggal menjadi tempat yang ga kalah ramai malam kemarin. Ratusan kembang api dan petasan diledakkan ke atas, itu semua aku dengar dari dalam rumah. Saat itu aku lagi asyik nonton film layar lebar yang ditayangin di televisi. Film yang sebelumnya telah kutonton di blitzmegaplex Teras kota, sambil sesekali mengusap air mata saat klimaks ceritanya. Film yang jauh sebelumnya sudah kubaca dalam bentuk cerpen yang menginspirasiku untuk suka kopi. Ya, kamu sekarang sudah tahu judul filmnya.

Beberapa orang sulit untuk suka nonton film, beberapa lainnya sering mampir ke tukang dvd bajakan atau membeli kuota internet yang besar untuk bisa menonton film yang diinginkan. Dan segelintir orang yang paham film rela merogoh kocek lebih dalam untuk beli dvd original film yang disukainya, memang cuma segelintir. Buat mereka film bukan hanya sekedar tontonan, tapi; karya seni. Aku bukan termasuk golongan itu, aku hanya golongan yang kedua, yaitu orang yang suka cari link film-film terbaru yang sudah rilis salinannya. Aku enggak begitu ngerti cara membuat film, mungkin karena itu aku kurang antusias pada karya original. Yang aku tahu selesai menonton sebuah film aku akan merasakan persis apa yang tokoh utama ingin sampaikan di akhir cerita film. Aku bisa merasakan adalah hal buruk bila dalam hidup ini kita selalu melakukan hal yang sama setiap hari, tanpa ada perkembangan tanpa ada improvisasi. Beragam pesan yang disampaikan oleh film adalah bentuk inspirasi dan motivasi untuk melakukan improvisasi itu.

Bisa jadi 2016 akan menjadi tahun yang sama buatku, tapi itu bukan karena aku tidak menulis resolusi apa-apa untuk tahun ini. Ini akan menjadi tahun yang sama seperti tahun lainnya bila aku tidak bergegas merapihkan pikiranku. Di sanalah semuanya berawal, pikiran positif akan mendorong kita untuk selalu melakukan hal-hal baik.

20 Januari 2015

Setan

Kutulis ini setelah aku bercengkerama dengan setan. Tak ada kebohongan tersirat dari wajahnya. Dia berkata seolah tak pernah ada yang mendengarnya. "Dunia ini hanya tinggal sisanya saja," katanya. Antara ada dan tiada aku pun memercayainya. Sisa dari apa? Aku pun tak paham. Namun begitulah dia beserta sifatnya. Berusaha membisikkan kuping manusia dengan kejahatan, meski itu bukan suatu kebohongan.

Ya, kejahatan memang sudah lama merasuk dalam setiap sendi kehidupan umat manusia. Bercokol dalam dusta setiap ruh yang memakmurkannya. Tak ada bisa, tahta pun jadi. Kursi kekuasaan mampu melegitimasi nasib lebih-lebih daripada bisa meluluhlantakkan kancil yang arif. Sudah lama cerita ini menggema. Berulang terus dalam beberapa kisah berbangsa dan bernegara.

Bukan hanya di atas saja. Dampak kuasa itu terus menjalar ke aliran selokan-selokan di bawah jalan raya ibu kota. Pengemis berdasi bergelimpangan memenuhi zona kapitalisasi ekonomi yang tak pernah lagi sama.

Tipu muslihat telah menjadi slogan utama kaum setan, tetapi bangsa manusia lah yang justru lebih lihai memainkannya. Permainan yang indah, bagai kerlip lampu ibukota. Sekaligus sebagai jawaban atas hilangnya keindahan rasi bintang yang sesekali datang di malam yang syahdu.