9 April 2013

Berbeda

Pada suatu sore, ketika keluar dari suprermal karawaci saya harus berjalan pelan di belakang dua orang (berbusana) wanita. Satu yang sebelah kanan mengenakan rok mini yang jelas tidak seksi, karena dibawah rokmini itu terpampang kaki yang kekar dengan bulu kaki yang dicukur asal. Sebelah kirinya memakai bluejeans ekstra ketat mmerlihatkan pinggulnya yang seksi. Namun lihatlah tumit yang memakai wedges itu: gelap berdaki. Oh my God. I'm so sorry. Saya sungguh tidak berniat menhina siapa pun!

Pemandangan yang tak wajar ini menarik untuk dipahami. Bagaimana seorang, oh mungkin dua orang, yang memiliki orientasi seksual berbeda merasa perlu menunjukkan statusnya di depan publik. Bahkan mungkin ada juga anak kecil yang melihat dan bertanya, "Mah, itu cewek atau cowok yah?" Sang Ibu yang hanya biasa menonton 'Mamah Dedeh' dan 'Cinta Fitri' pun bingung menjawabnya.

Menarik untuk melihat definisi dan keterangan tentang kaum biseksual ini dari berbagai sumber. Wikipedia misalnya, menulis bahwa biseksual adalah suatu orientasi seksual antara homoseksual dan heteroseksual, dan itu bukanlah penyakit. Saya tidak terlalu tertarik untuk mengkajinya lebih dalam. Sudah banyak paper sosbud yang memelajari hal ini. Namun dalam aspek praksis yang kita lihat saat ini. Bagaimana budaya modern kini semakin memicu kalangan yang 'berbeda' itu untuk semakin yakin tentang identitasnya yang tidak 'salah.'

Bila berbicara betul-salah tentu saya bukan tuhan yang MahaTahu. Salah dan betul hanya saya (dan anak-anak lainnya) ketahui dari kitab, buku, keluarga, televisi, dan lingkungan sekitar yang membentuk suatu konstruksi sosial. Lantas, dimana keberadaan kalangan 'berbeda' itu dalam konstruksi sosial kita saat ini?

Jawabannya tentu sekaligus menjelaskan mengapa saya lebih memilih kata 'berbeda' daripada biseksual. Sebagai mahluk yang lahir karena sesuai fitrah dari-Nya, kita tentu tak pernah berharap memiliki keturunan yang mengalami disorientasi jiwa semacam itu. Namun pada akhirnya selalu ada kesimpulan inklusif yang kita capai tentang perbedaan ini. Itu karena fitrah Tuhan bersifat universal dan abadi. Pembelaan destruktif yang melahirkan pemahaman baru tentang hal ini akan selalu ada. Dan itu tak lain adalah sebuah bentuk pertahanan subjektif yang ingin memperbanyak jumlah mereka.

24 Februari 2013

Temen Gue


Pagi dan mentari membuat keindahan alam terepresentasi dengan tepat. Namun sejak awal tahun hingga hari ini kombinasi keduanya sering terganggu. Awal pagi yang cerah menjadi harapan di setiap hari weekday agar bisa berangkat ke kantor atau sekolah dengan normal. Itulah sisi gelap awal tahun ini. Tak terasa dan tak ada yang mau ngitung juga sudah berapa hari yang lalu saya lulus SMA. Mengingat masa penuh keceriaan tidaklah sulit. Dimana kita bertemu dengan banyak teman yang menemani kita tumbuh berkembang. Ketika anak perempuan SMP yang cupu berangkat jadi kupu-kupu. Ketika remaja lelaki SMP yang polos berangkat menjadi bos (parkiran). Masa metamorfosis itu sering kita sebut masa puber. Ya, puberitas adalah perubahan fisik personal menjadi dewasa. Itu hanyalah perubahan fisik semata. Ada yang lebih dari itu. Pertemuan dengan teman canda dan tawa di masa SMA menjadi sesuatu yang menarik untuk diulang.
Kemarin gue main ke kostan salah satu teman SMA yang kuliah di UIN, Ciputat. Di sana sudah ada teman SMA gue yang lain, mereka datang dari Yogyakarta dan Purwokerto. Pas gue datang, pukul sepuluh pagi, kedua teman gue itu masih tidur. Abis dugem katanya, di bilangan Kemang. Lalu pas gue ke kamar mandi, di belakang ada sebotol bekas bir hitam. “Waw,” gue bilang dalam hati. Dan ketika mereka bangun gue masih nonton tv dengan saluran tv yang abis mereka tonton. “Haha,” minumnya bir hitam, rokok SamSoe, eh nontonnya infotainment juga. Teman gue sang penghuni kostan malah semangat mengomentari soal Raffi Ahmad yang membela diri lewat pengacaranya. Itu kan sama aja kayak lelaki berbadan kekar yang tatoan, dengan jaket jeans yang dirobek lengannya, bertampang seperti polisi India, lalu sambil megang helm cetok dia bilang ke ibu-ibu yang lewat, “Ayuk, ojeknya Bu.”
Pukul satu siang salah satu teman saya yang kuliah semester akhir di UNSOED bangun dan menjalankan shalat zuhur. Alhamdulillah, masih inget shalat dia. Seusai shalat teman gue yang bernama Moko ini mengambil sebatang SamSoe lalu menyulutnya. “Ajib,” macam kiyai sepuh dari Jawa Timur saja teman gue yang satu ini. Kemudian Gani, sang penghuni kostan ingin menonton film Loopers yang baru saja didownloadnya di kampus. Moko pun nimbrung tak mau ketinggalan. Setelah sepuluh menit film dimulai Moko mulai bertanya ini-itu, seperti: “Eh, ini kan yang main di film itu ya? Apa namanya?..,” “Lah, ini bukannya yang tadi?” Dan Gani si pemilik laptop menjawab seadanya: “Ya.., Heeh.., Mmmh...” Gani dan gue sama-sama memahami perilaku dasar Moko ketika nonton film. Dan itu sudah berlangsung sejak lima tahun lalu, ketika kami masih SMA. Gue ga bisa bayangin ketika dia nonton di bioskop dengan pacarnya, apakah dia juga melakukan hal yang sama? Itulah beberapa teman gue.
Tetapi Moko tidak berhenti sampai di situ. Setelah film usai dan kami bertiga terkesan oleh ending dari filmnya, Moko kembali eksentrik. Sambil melipat sarung, Moko menoyor kepala gue sambil memeragakan pemain basket, “Slam dunk!” Gue yang lagi merhatiin daftar film di laptop bingung harus bertindak apa. “Wey Mok, lu kesurupan lagi ya?” Bukannya insaf mendengar ucapan gue, dia malah makin autis. “Woy, anak setan!” Gue bilang begitu sambil berharap orangtuanya gak denger. Dulu ketika SMA, Moko memang selalu eksentrik setiap ketemu gue. Tapi ga tau, kayaknya setiap ketemu gue aja dia kayak gitu. Namun sifatnya yang penuh tawa itu pula yang membuatnya memiliki banyak teman.
Dalam film Loopers, Bruce Willice berperan apik. Menjadi seorang looper yang hidup sebagai mafia sampai tua, ia mengingat hal-hal yang telah dilalui. Dan ketika ia ditangkap untuk kembali lagi ke 30 tahun sebelumnya dengan mesin waktu (untuk dibunuh), ia berusaha memperbaiki masa lalunya agar takdir yang ia sudah tahu lewat ingatannya berakhir dengan lebih baik. Itulah film. Pengandaian muncul ketika kita selesai menonton sebuah film. Namun inilah hidup yang nyata. Kita selalu mengahadapi apa yang ada di depan tanpa harus tahu sebelumnya. Setidaknya, seberapa keras realitas yang gue hadapi, gue agak senang karena punya teman yang juga masih bisa menjaga keakuan dirinya. Dan dengan itu gue bercermin. Apakah gue masih sama dengan gue yang dulu? Tentu jawabannya tidak setegas garis bayangan saat fajar.
Yang pasti gue melihat teman-teman gue itu masih menyimpan sifatnya yang lama, meski fisik dan penampilan  mereka berubah. Katanya, segala sesuatu di dunia ini pasti mengalami perubahan. Ya, benar. Dari yang dulu suka main becek-becekan, sekarang setelah numbuh kumis mulai suka main di genangan air. Perubahan fisik selalu kita ketahui lewat cermin. Perubahan jiwa kita sadari dari bertambahnya masalah dan tanggung jawab yang kita hadapi. Namun sifat dan sikap adalah satu hal berbeda yang kita tentukan sendiri untuk menjalani hidup ini. Dan sekali kita memilihnya, ia akan lama melekat dan merepresentasikan siapa kita. Have a good day, guys!