4 Oktober 2014

Idul Adha

Assalamualaikum. Semoga kita selalu dalam keadaan sehat sejahtera.

Tak terasa sekarang sudah idul adha aja. Sepertinya baru kemarin kita saling bersalaman di idul fitri. Gimana rasanya ketika kita dimasukkan dalam time capsule, seperti hanya duduk sebentar dan tiba-tiba waktu telah terlewat setengah tahun. Itulah yang baru saya rasakan ketika hari ini mendengar takbir berkumandang.

Hidup dalam rutinitas sebagai karyawan swasta memang kelihatannya nyaman. Berangkat pagi - pulang sore, tiap akhir bulan berwajah cerah ceria. Tapi tiap malam senin bermuram gulita. Misuh-misuh sendiri, mengapa senin begitu cepat datangnya. Takbir yang dikumandangkan tiap waktu shalat tiba menjadi terdengar megah di hari ini. Takbir yang jadi napak tilas peristiwa kemenangan nabi Ibrahim atas bisikan setan. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Dalam sirahnya yang diceritakan dalam AlQuran nabi Ibrahim lewat mimpinya diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya sendiri Ismail alaihisalam. Ismail sendiri adalah anak tunggalnya yang kelahirannya ia dambakan. Bagaimana ia tidak bimbang menerima wahyu yang semacam itu. Nabi Ibrahim pun berjalan ke padang arafah, berdiam diri dan merenung, apakah mimpinya itu benar firman Allah atau bukan. Hingga akhirnya ia yakin akan kebenaran-Nya.

Pernah nonton film The Hobbit, paling tidak pernah dengar lah ya. Dalam film yang pertama, sang hobbit yang diajak bertualang oleh Gandalf bertemu dengan mahluk aneh di dasar jurang. Mahluk aneh itu mengaku dirinya sebagai gholum. Perangainya aneh, kadang ia berdialog dengan dirinya sendiri untuk memutuskan sesuatu. Ia berdialog dengan sisi lain dari dirinya yang lebih agresif dan bersuara parau. Karena perilaku itu pula akhirnya si hobbit berhasil lolos dari gholum yang berniat menyantapnya.

Satu pesan dari kedua cerita di atas. Bahwasanya kita tak bisa memungkiri, kita memiliki sisi lain diri kita yang mungkin saja turut andil dalam beberapa keputusan yang kita buat. Sisi lain tersebut hadir sebagai satu paket dalam hidup kita, menemani dan memahami kita sejak kecil hingga kini.

Beberapa dari kita mungkin sangat menyadarinya, beberapa lagi mengabaikan. Dua cerita di atas bisa menyiratkan bahwa kita menjadi manusia yang seutuhnya ketika kita berhasil menguasai sisi lain atau sisi apapun yang berusaha memengaruhi diri kita. Ketulusan dan kejujuran bisa menjadi makna yang sesungguhnya dari tiap keputusan yang kita buat.

Salam olahraga.

4 Mei 2014

Berhak

Bumi nusantara ini sedang ramai oleh sebuah peristiwa yang diadakan lima tahun sekali. Peristiwa yang diharapkan dapat menjadi titik tolak perubahan ke arah yg lebih baik. Proses demokrasi yang mengawali pergeseran kekuasaan bangsa, yang memulai harapan kita tumbuh sebagai bangsa yang besar untuk lima tahun ke depan.

Sebenarnya ini bukan soal kenapa ataupun siapa. Ini hanya tentang bagaimana: bagaimana kemajuan bangsa ini direfleksikan oleh beragam karakter yang menghargai hak pilihnya atau tidak. Ini juga tentang apa: apa mereka (yang akan mengatasnamakan rakyat) benar-benar membawa kepentingan rakyat sebagai sumber daya utama kemajuan bangsa. Atau mereka hanya menjunjung tinggi kebutuhan rakyat hanya saat kampanye. Namun ketika terpilih justru mati-matian berjuang memenuhi kepentingan pribadi dan partainya. Ini bisa dilihat dari jumlah rupiah yang harus dikeluarkan para calon legislatif untuk menggelembungkan pamornya di mata para pemilih. Logika sederhana yang berkaitan dengan teori ekonomi mempertanyakan konsekuensi logis dari fenomena itu. Bagaimana ketika sudah banyak modal yang dikeluarkan, maka harus ada pemasukan yang kiranya mampu menutupi beban pengeluaran.

Ada pula perilaku konvensional yang masih dijalani lewat intrik-intrik politik instan pendulangan suara. Dalam sebuah sesi obrolan ringan dengan seorang teman, saya mendapat informasi bagaimana perilaku jual-beli suara menjadi lumrah dalam suatu momen pergeseran kekuasaan. Teman obrolan saya yg kini berprofesi jadi office boy itu bercerita tentang pengalamannya melakukan transaksi hak pilih dengan KTP asli sebagai bukti awal jumlah suara yg akan ditukar dengan rupiah. Sepuluh KTP yang terkumpul akan dihargai Rp500.000, begitu pun kelipatan selanjutnya. Ini terjadi pada Pemilu 2009 lalu, tuturnya.

Rakyat menjadi satu-satunya orientasi objektif yang harus dirangkul, didekati, diiming-imingi dan dimanja. Bahkan ada satu partai yang tak ragu mengatasnamakan rakyat dalam nama partainya. Tapi rakyat yang mana dulu. Apa termasuk daftar rakyat yang dulu terbunuh dalam peristiwa berdarah Mei 1998? Apakah nama rakyat itu juga mewakili nama orang-orang yang hilang dalam peristiwa Trisakti 1998 yang lalu? Bagaimana kita bisa dengan mudah lupakan sejarah kelam kita menuju era demokrasi yang megah saat ini. Demokrasi menjadi satu kata yang egaliter terdengar dimana-mana, ketika sebelumnya terdengar hampa karena dijalankan oleh orde totaliter.

Demokrasi hadir sebagai harapan segar setelah dimulainya era reformasi. Kata demokrasi juga terselip dalam bermacam nama partai politik yang ikut kontes pemilihan umum di tahun ini. Satu kata ini diharapkan menjadi kesan positif tersendiri di era modern bangsa Indonesia. Namun demokrasi yang seperti apa yang sungguh bisa jadi nilai positif pertumbuhan bangsa? Apakah demokrasi yang tetap menjunjung feodalnya politik instan. Atau demokrasi normatif yang dihimpun hegemoni pembentukan persepsi publik lewat persuasi masif media mainstream. Demokrasi yang sebenarnya adalah sistem kepemimpinan yang murni berangkat dari kesadaran kita sebagai pemilih yang cerdas. Subjek-subjek (bukan objek) yang berhak menentukan dengan cermat masa depan bangsa lima tahun mendatang. Subjek-subjek yang tidak mudah diimingi imbalan ekonomi karena sadar hak pilihnya bisa meraih potensi kemakmuran yang jauh lebih besar.